| Segelap-gelapnya dunia bahlul, pintu taubat selalu terbuka. |
|
|
| Minggu, 12 Juli 2009 | |
|
Halaman 1 dari 2 “Marsya sayang, ambil ‘topimu’ yang lepas itu. Pasangkan kembali di kepalamu. Saat itu, Allah akan mendekatimu sedekat yang kamu kehendaki. Imanmu yang tadinya lepas akan kembali, secepat kamu memasang topi itu,” kata saya kepadanya. Kami kemudian berpisah” (hlm: 187).Marsya dalam Marketing Bahlul (MB) adalah nama samaran seorang sales mobil mewah di Jakarta. Muhammad Syakir Sula (Syakir), dalam kerja investigatifnya membuat buku ini, penasaran dengan gosip “2in1” yang dilontarkan temannya. Maksudnya, jika kita membeli satu mobil mewah, yang didapat bukan hanya mobil, juga perempuan cantik yang bisa ‘diapa-apakan’.
Di kalangan eksekutif kota besar seperti Jakarta, bisnis lebih dari sekadar urusan uang, tapi pelepasan nafsu segala. Mau judi, seks bebas, mabuk, dan sebagainya ibarat lekat dengan dunia bisnis. Bahkan menjadi jamak dilakukan para pelaku bisnis. Begitu kurang lebih pandangan Syakir tentang dunia bisnis yang telah digelutinya puluhan tahun. Untungnya, aku Syakir ia masih bisa menjaga iman untuk tidak tercebur ke dunia seperti itu. Seperti kasus Marsya, Syakir sengaja berpura-pura menjadi calon pembeli mobil mewah dan mengorek-ngorek apakah benar gosip “2in1” itu benar. Ternyata benar. Marsya, di dalam buku ketiga Syakir ini mengaku mau dibawa kemana saja selama sebulan oleh si pembeli mobil. Ini bagian dari strategi cepat menjual mobil mewah. Ibarat Topi yang Terlepas dari Kepala Dari strategi itu, Marsya mendapat bonus besar hingga bisa memberi modal usaha kepada keluarga besarnya di kampung. Tapi, “Aku takut, Mas. Aku ngeri. Trus, aku harus gimana? Aku harus bilang apa ke keluargaku yang sudah telanjur. Gimana aku harus berenti. Astaghfirullah! Ya Allah, aku ini benar-benar hina. Aku ini kotor. Apakah tobat aku masih bisa diterima, Mas?”, tanya Marsya (hlm: 187) Syakir menjawab dengan mengutip hadis Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, “Jika seseorang berzina, maka keluarlah iman itu dari dirinya bagaikan topi (terlepas) di kepalanya. Kemudian jika dia menghentikannya, maka iman itu pun kembali pada dirinya”. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|







“Marsya sayang, ambil ‘topimu’ yang lepas itu. Pasangkan kembali di kepalamu. Saat itu, Allah akan mendekatimu sedekat yang kamu kehendaki. Imanmu yang tadinya lepas akan kembali, secepat kamu memasang topi itu,” kata saya kepadanya. 








