| Dari Era Rasional ke Emosional ke Spritual |
|
|
| Jumat, 19 Juni 2009 | |
|
Halaman 1 dari 6
Suatu ketika saya diskusi ringan dengan seorang Kyai yang benar-benar pakar ekonomi syariah dan kebetulan beliau adalah anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) dari beberapa bank dan asuransi syariah, KH. Dr. Didin Hafidhuddin. Saya katakan, pak kyai apakah benar dikotomi pasar emotional dan pasar rational; dan apakah pasar syariah itu pada awalnya hanyalah emosional market, kemudian ia bergeser ke rational market. Saya sempat terkejut, karena beliau menjawab, kata siapa orang yang emotional market tidak rational; justru orang-orang yang emosional market sangat rational dalam menentukan pilihan. Beliau katakan orang dikategorikan emotinal market, biasanya lebih kritis, lebih teliti dan sangat cermat dalam membandingkan dengan bank atau asuransi konvensional yang selama ini ia pakai, sebelum menentukan pilihan ke syariah. Sambil bercanda beliau katakan, bahkan hitungan-hitungan mereka malah bisa sampai ke hitungan-hitungan amal ke akhirat. Statemen pak kyai Didin, memang benar. Dikotomi nasabah rational dan nasabah emotinal sebenarnya merupakan paradigma berfikir marketing konvensional yang dipengaruhi oleh paham sekular, dimana segala sesuatu yang berlandaskan cara berfikir keagamaan serta merta akan dikelompokkan dalam kelompok yang tidak rasional. |
| < Sebelumnya |
|---|





Banyak orang mengatakan bahwa market syariah itu hanyalah emotional market, sedangkan pasar konvensional adalah rational market. Benarkah demikian?.