| Cerutu Gaul Cerutu Bahlul |
|
|
| Kamis, 16 Juli 2009 | |
|
Halaman 1 dari 6 Anda pernah ke kafe atau restoran-restoran hotel bintang lima? Ada satu trend baru pebisnis dari kalangan eksekutif, yaitu menghabiskan waktu sepulang kantor nongkrong-nongkrong di kafe atau bar hotel berbintang sambil mengisap cerutu. Ini biasanya dilakukan oleh kalangan “ahli hisap” alias perokok berat yang berkantong tebal. Ngisab rokok Marlboro, Dunhill, apalagi rokok produk dalam negeri seperti rokok Djarum, Djie Sam Su, Sampoerna, sudah lewat. Sekarang yang asyik bagi mereka sambil ‘ngilangin’ suntuk seharian di kantor, mereka ‘ngisap’ cerutu. Biasanya ‘pasangan’ yang paling pas dengan cerutu adalah minum wine satu, dua, tiga gelas.
Untuk pemula biasanya cuma ngisap cerutu dalam negeri yang harganya sebatang sekitar Rp 30.000-an. Bagi yang sudah maniak, apalagi untuk entertain klien mereka, kelasnya sudah cerutu impor. Biasanya cerutu yang terbaik adalah cerutu dari Cuba. Harganya pun tentu berbeda, bisa sampai Rp 300.000 per batang. Anda bayangkan kalau dia ngisab cerutu satu batang sehari dalam sebulan. Berarti untuk pengeluaran cerutu saja, dia sudah harus alokasikan dana 9.000.000 per bulan. Dalam setahun sebesar Rp. 109.500.000, Subhanallah! Berapa fakir miskin yang bisa dihidupi dengan uang sebesar itu. Suatu saat saya diajak teman. Kawan ini, selain sebagai pengusaha sukses, juga seorang “duren” (duda keren). Si ‘duren’ ini sering nongkrong di kafe-kafe berkelas. Biasanya sih ditemenin temen-teman semazhabnya dari lain jenis, yaitu “jajali” (janda-janda liar) atau ibu-ibu “jablai” (jarang dibelai). Mereka sering saling ‘curhat’ menghadapi problematika hidup. Kalau lagi jalan bareng, saya lebih pantas dibilang supirnya. Kawan ini memang ganteng, rada bahlul, tapi jago negosiasi bisnis. Kali ini dia ada tamu dari Timur Tengah. Kawan ini penikmat cerutu. Sang tamu pun sama. Kami ketemu di salah satu kafe di kawasan Plaza Senayan. |
| Berikutnya > |
|---|
















