| Marketing Spiritual as the Soul of Business |
|
|
| Kamis, 16 Juli 2009 | |
|
Halaman 1 dari 11 Kejutan besar dilakukan oleh Stephen R. Covey, penulis buku lagendaris The 7 Habit of Highly Effective People. Ia dipenghujung puncak karirnya sebagai konsultan kelas dunia menerbitkan buku baru, The 8 th Habit Effectiveness to Gratness,[1] Covey akhirnya berkesimpulan bahwa faktor spiritual merupakan faktor kunci terakhir yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam suatu perusahaan. Seorang pemimpin harus memiliki empat style, yang ia sebut “the 4 Roles of Leadership”, yaitu: Pathfinding (perintisan), Aligning (penyelarasan), Empowering (pemberdayaan), dan Modeling (panutan). Pada bagian akhir inilah Covey kemudian menyadari bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa jadi panutan (modeling), seorang pemimpin haruslah memimpin berdasarkan prinsip. Orang lain akan percaya anda bila anda memahami dan hidup berdasarkan prinsip-prinsip, ‘Bulding trust with others’ kata dia.
Pemimpin harus mampu menyatukan kata dengan perbuatan, dan pemimpin adalah orang yang layak dipercaya. Kata kunci untuk semua ini adalah kejujuran yang senantiasa menjadi bagian dari nilai-nilai spiritual. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa skandal manipulasi laporan keuangan yang mengguncang perusahaan-perusahaan raksasa yang sudah kami sebutkan diatas, membuat semua orang sadar bahwa spiritual menjadi demikian penting dalam suatu bisnis dalam era globalisasi yang tingkat persaingannya demikian ganas (sophisticated). Kita perlukan kepemimpinan spiritual dalam mengelola suatu bisnis, terlepas dari mana sumber spiritual tersebut, seperti dikatakan Jonathan L Parapak[2], “Apabila kita dalami elemen-elemen pokok dari kepemimpinan, maka semua harus diwarnai, dicerahi dan dilandasi oleh ajaran, nilai dan prinsip-prinsip kriatiani (bagi penganut kristen). Visinya adalah visi penyelamat, visi transformasi, visi pemeliharaan, visi kasih, visi pemberdayaan, dan visi kekekalan. Strateginya adalah strategi pemberdayaan, penyelamatan dan pembaruan. Sistem nilai, ajaran dan prinsip-prinsip kristiani menjadi pegangan, landasan, acuan, dan arahan utama dalam memilih pola komunikasi, skenario yang akan digelar” |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




