Judul Buku Marketing Bahlul P e n u l i s Muhammad Syakir Sula P e n e r b i t PT. Rajagrafindo Persada H a r g a Rp. 60,0 | "Eh, you tau bedanya marketing laki-laki dengan marketing wanita?" tanya si Amin kepada si Aman, kawannya yang mantan direktur perusahaan asuransi. "Gampang mah itu. Sales laki-laki pakai dasi dan yang wanita pakai rok,"jawab Aman. Si Amin tertawa, kemudian menjawab, "Salah, Mas. Yang benar, kalau sales laki-laki itu telapak kakinya yang tebal karena banyak jalan mencari nasabah, sedangkan sales wanita punggungnya yang tebal karena banyak 'melayani' nasabah." Hahahaha. Amin ketawa terbahak-bahak. Tapi, si Aman cuma respons dengan senyum tipis. Terus dia bilang, "Maaf, saya marketing syariah, Mas." "Marketing syariah? Apaan tuh? Marketing 'Syoriah', kali." Demikian cuplikan sebagian dari perilaku bahlul dalam dunia marketing. Cerita-cerita seperti itulah yang diangkat oleh Pak Syakir Sula dalam buku terbarunya, "Marketing Bahlul". Kisah-kisah ini merupakan bagian dari pengalaman beliau selama aktif dalam dunia asuransi dan bisnis. Sepertinya lumrah ya dalam dunia marketing, untuk dapat mengegolkan penjualan itu, pelanggan harus di-entertain di tempat-tempat dengan suasana tertentu: salon remang-remang, spa plus-plus, dan karaoke plus. Ada lagi istilahnya "apartemen include" di dunia bisnis properti, paket "2 in 1", strategi buka kancing, dan lain-lain. Kalau ngga begitu, target ngga akan tercapai. Apa iya sampai segitunya? Masa sih begitu dahsyatnya cara-cara yang dilakukan oleh marketer dalam menjalankan pekerjaannya? Kok dunia marketing sepertinya menjadi serba maksiat? Segala cara dihalalkan agar target tercapai maksimal? |